Dua Dekade Melantai di Bursa, Saham BRI Naik 61,5 Kali

November 2023 ini, tepat 20 tahun saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melantai di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Bank BUMN itu melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada November 2003 dan saat itu menawarkan 3.811,7 miliar lembar saham biasa dengan harga Rp875/saham. 

Apabila mempertimbangkan stock split dan right issue, sampai dengan saat ini, tercatat saham BBRI telah naik 61,5 kali jika dibandingkan dengan harga pada saat IPO. Terkait dengan pencapaian ini, Direktur Utama BRI Sunarso bangga, namun tak berpuas diri. 

Sunarso mengungkapkan bahwa BRI terus fokus untuk menciptakan value agar BRI dapat terus tumbuh secara berkelanjutan. Selain menciptakan value dari aspek ekonomi dan bisnis (economic values), dia menyampaikan bahwa perseroan juga akan terus menghadirkan social values bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kami harus menargetkan economic value, seperti pertumbuhan laba dan aset. Pada akhirnya, akan berdampak pada pertumbuhan dividen, serta peningkatan harga saham yang akan memberikan value kepada stakeholder”, kata Sunarso dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (15/11/2023).

Selain naik 61,5 kali lipat, sejumlah pencapaian penting BBRI selama tercatat (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang dua dekade di antaranya pada 2007 market cap BBRI menyentuh Rp100 triliun pada November 2007. Pada 11 Januari 2011, BBRI melaksanakan pemecahan nilai nominal saham alias stock split dengan rasio atau perbandingan 1:2.

Selanjutnya 2013-2014 saham BBRI menembus market cap Rp200 triliun pada Kuartal I 2013. Selama tahun 2015 sampai 2016 market cap BBRI mencapai Rp300 triliun pada Kuartal I 2015. Pada 10 November 2017, seiring perayaan 14 tahun BRI di bursa, BBRI kembali melakukan stock split dengan rasio 1:5.

Sepanjang 2020, pasar keuangan global terguncang akibat pandemi Covid-19. Saham BBRI juga ikut terimbas, kendati mengalami pemulihan yang relatif cepat. 2021 masih dalam fase pemulihan pandemi, market cap BBRI kembali menembus angka Rp500 triliun pada Kuartal I 2021. 

Perseroan juga sukses menggelar aksi korporasi berupa penambahan modal dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada 2021. Hal tersebut dilakukan seiring BRI membentuk Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM. 

Total raihan rights issue jumbo BRI mencapai Rp95,9 triliun yang terdiri atas Rp54,7 triliun dalam bentuk partisipasi non tunai pemerintah berupa inbreng saham Pegadaian dan PNM, serta Rp41,2 triliun dalam bentuk cash proceed dari pemegang saham publik.  Pencapaian tersebut menorehkan sejarah sebagai right issue terbesar di kawasan Asia Tenggara, peringkat ketiga di Asia, dan nomor tujuh di seluruh dunia.

Kini pada 2023, kenaikan harga saham seiring dengan kinerja yang positif membuat BBRI berkali-kali menembus level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Terbaru, pada akhir Juli 2023, saham BBRI menembus level ATH pada perdagangan intraday 27 Juli 2023 di angka Rp5.750 per saham. 

Level tertinggi tersebut kembali disentuh perdagangan intraday 1, 3, dan 8 Agustus 2023. Dari aspek market cap, BBRI menembus level baru, yakni Rp800 triliun di 2023, yakni di sekitar Mei. Kenaikan harga saham yang sempat menembus level ATH pada akhir Juli dan Agustus lalu, kapitalisasi pasar (market cap) BBRI pernah menyentuh pula level tertinggi, yakni mencapai Rp871,46 triliun pada saat intraday.

Pada paparan kinerja keuangan Kuartal III 2023 Sunarso mengungkapkan bahwa di tengah tantangan dan ketidakpastian perekonomian global karena meningkatnya tensi geopolitik dunia, BRI berhasil menjaga kinerja keuangan yang impresif. Keberhasilan BRI Group menjaga kinerja positif tersebut ditunjukkan dari aset yang secara konsolidasian meningkat 9,93% year on year (yoy) menjadi Rp1.851,97 triliun. 

“Pertumbuhan aset tersebut juga diiringi dengan perolehan laba dalam 9 bulan yang mencapai sebesar Rp44,21 triliun atau tumbuh 12,47% YoY. Agar terus tumbuh, BRI menggunakan dua strategi pertama, adalah menaik kelaskan nasabah eksisting dengan berbagai program-program pemberdayaan dan pendampingan. Kedua adalah mencari sumber pertumbuhan baru, atau menyasar segmen ultra mikro melalui holding ultra mikro bersama PNM dan Pegadaian,” katanya.

Editor : Eva Martha Rahayu

Swa.co.id



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *